Strategi Kolaboratif Optimalisasi Pembinaan Kemandirian Narapidana melalui Pengolahan Sampah Organik di Lapas Sukamiskin
| Nama Peserta | Medi Oktafiansyah, S.Psi, M.Si | Nama Pelatihan | PKN Tingkat II |
| Instansi | Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan | Angkatan | XXIV |
| Jabatan | Kepala Bidang Pembinaan | Periode Pelatihan | 25 Agt 2025 - 21 Nov 2025 |
Video
Excecutive Summary
Proyek perubahan ini berfokus pada transformasi pembinaan kemandirian di Lapas Kelas I Sukamiskin melalui pengelolaan sampah organik berbasis green economy. Selama ini, sampah organik yang berasal dari dapur dan aktivitas warga binaan hanya menjadi limbah yang menimbulkan persoalan lingkungan dan biaya tambahan pengelolaan. Proyek ini hadir sebagai solusi inovatif dengan mengolah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi, antara lain maggot, pelet pakan ternak, dan kasgot (pupuk organik). Melalui strategi kolaboratif, proyek ini mengintegrasikan warga binaan pemasyarakatan (WBP), petugas Lapas, serta pihak eksternal (pemerintah daerah, BLK, sektor swasta, UMKM, CSR perusahaan, dan komunitas masyarakat). Kolaborasi ini menjadikan proyek bukan sekadar program pengelolaan limbah, melainkan model pembinaan produktif yang mencetak keterampilan baru, membuka peluang usaha, serta memperkuat reintegrasi sosial WBP. Konteks urgensi proyek ini juga diperkuat oleh data internal: dari 445 WBP yang ada, hanya 14,8% yang mengikuti program kemandirian, sementara sebagian besar belum terlibat aktif dalam kegiatan produktif. Padahal, Lapas Sukamiskin memiliki lahan 108.170 m2 yang belum optimal dimanfaatkan. Dengan memaksimalkan potensi tersebut melalui green economy, proyek ini menjadi relevan sekaligus strategis dalam meningkatkan produktivitas lapas dan mengurangi stigma sosial. Secara jangka pendek, proyek ini menargetkan penyusunan manual book, pelaksanaan pelatihan dasar, pilot project pengolahan sampah organik, serta penetapan Lapas Sukamiskin sebagai Model Industri. Pada jangka menengah, dibangun pabrik pengolahan sampah organik, dilakukan pelatihan dasar bagi petugas, serta monitoring berbasis outcome (jumlah WBP terlatih dan tersalurkan). Dalam jangka panjang, akan dikembangkan Sarana Asimilasi & Edukasi (SAE) terpadu, unit usaha pengolahan sampah organik unggulan, serta jejaring kolaborasi dengan skema triple helix (pemerintah, swasta, akademisi). Manfaat proyek perubahan ini terbagi menjadi dua: Internal: meningkatkan keterampilan WBP, menambah produktivitas lapas, memperkuat citra institusi, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah. Eksternal: membantu pengurangan timbunan sampah organik di Kota Bandung, menyediakan alternatif pakan ternak yang lebih terjangkau, memperluas keterlibatan masyarakat dan stakeholder, sekaligus mendukung kebijakan nasional terkait green economy dan SDGs. Dengan pendekatan ini, Lapas Sukamiskin tidak hanya menjadi lebih bersih dan produktif, tetapi juga tampil sebagai role model nasional pembinaan kemandirian berbasis green economy. Keberhasilan proyek perubahan ini diharapkan memberi kontribusi nyata bagi pemasyarakatan, pemerintah daerah, masyarakat, sekaligus agenda pemb angunan berkelanjutan nasional.